Gethuk Kurung Klaten

gethuk kurung

GETUK KURUNG: Getuk Yoko buatan Suhardi (64), lebih dikenal dengan nama getuk Kurung sesuai dengan nama desanya. TAK hanya Magelang yang memiliki getuk dengan rasa khas, di Klaten juga ada getuk dengan rasa istimewa. Getuk Yoko buatan Suhardi (64) dan istrinya, Sujiyem (49), warga Dukuh Putatan, Desa Kurung, Kecamatan Ceper, Klaten mempunyai rasa ngangeni. Pantas saja bila banyak orang luar kota mencarinya. Getuk yang lebih dikenal dengan nama getuk Kurung itu (sesuai dengan nama desanya) digelar di kios kecil tepi Jalan Karangwuni-Pedan, kira-kira tiga kilometer barat pertigaan Karangwuni Jalan Yogya-Solo. Kios tersebut buka sejak pukul 09.00. Getuk tersebut bermacam-macam, ada rasa cokelat manis, ada pula yang berbentuk gulung isi selai nanas. Getuknya diberi warna cerah yang menggugah selera. Makanan itu dihidangkan dengan kelapa parut dan gula halus untuk menambah rasa. Sebungkus kecil harga Rp 3.000. Tersedia juga bungkus besar sesuai dengan permintaan. Bila ingin pesan bisa langsung telepon ke 0272-897050. ”Bapak-bapak Kodim sering pesan via telepon ke sini bila pesan banyak. Biasanya bila sekarang telepon, besok tinggal ambil. Polisi-polisi dan pejabat juga banyak yang beli getuk,” tutur Sujiyem. Suhardi mengungkapkan, ide untuk membuat getuk muncul ketika dia ikut budhe-nya di Kota Getuk Magelang. Semula, dia kerja di bengkel andong. Setelah banyak mobil, bengkel sepi sehingga dia beralih membuat getuk. Usaha itu dimulai 1978 ketika anaknya Yoko (dijadikan merek getuk) masih satu tahun. Dengan lima kilogram singkong, Suhardi membuat getuk lindri yang dalam penilaian dia, saat itu rasanya masih kurang enak. Tapi dia terus berusaha memperbaiki rasa. Keliling Tiap hari, Suhardi keliling menjajakan getuk dengan sepeda sambil memboncengkan istrinya yang menggendong Yoko kecil sampai malam. Kemudian berjualan di pinggir Jalan Pedan hingga setahun. Lalu membuat gerobak dorong, tapi lantaran tidak laku dia hanya bertahan enam bulan. Berjualan di barat jalan ternyata kurang laku, lalu pindah ke timur jalan seperti yang sekarang. Ternyata laku dan bertahan sampai sekarang. Hanya sebuah kios tenda di atas parit yang ditutup cor semen. ”Sejak di tempat itu kok ternyata laris sampai sekarang,” ungkap bapak empat anak, dua di antaranya sarjana. Kini, dalam sehari dia bisa menghabiskan 70 kg sampai satu kuintal singkong dengan omzet Rp 500.000 – Rp 600.000. Ada 6 pegawai yang memban tunya. Dia ingin terus menambah rasa dan penampilan agar tidak ditiru, sebab sejumlah mantan pegawainya yang keluar membuat getuk sendiri.(Merawati Sunantri-70j)
sumber: http://www.suaramerdeka.com/harian/0208/15/slo21.htm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s